"Jika bukan karena nyala api yang membakarnya, maka aroma harum kayu gaharu takkan ada yang tahu .." : petanibodoh

Sabtu, 03 September 2011

CATATAN : Segelas Kopi Jelata Sehabis Lebaran

" Antrian "
ilustrasi oleh: dari 'persawahan' google


JANGAN (PERNAH) REMEHKAN RAKYAT (DAN MAHASISWA)


- Indonesia .. / Ku bawakan setangkai kembang subversif / Bunga abadi yang tumbuh di pegunungan kesadaran / Ku petik dalam nestapa / Setelah perjalanan panjang menaklukkan jurang ketakutan .. – (Juandi Rewang)

TANPA adanya sejumlah manusia yang bernama rakyat, maka tidak akan ada penamaan wilayah dan sistem yang bernama negara. Coba kita tengok Israel dan Palestina, karena mereka masih punya rakyat maka itulah alasan secara sistem kedaulatan pemerintahan mereka mendirikan negara. Ini merupakan sekedar catatan ringan dan asal tulis saja, jadi mari kita singkirkan pemikiran berat dari kepala kita dulu. Anggaplah ini coretan minum kopi.

Sejarah perubahan di Indonesia tidak pernah lepas dari aksi massa. Ini sebagai titik balik atas pergantian rezim dari pertama kali negara dari bangsa nusantara ini berdiri tahun 1945 silam. Kita perhatikan jejak Orde Lama yang digulingkan oleh gelombang aksi setelah peristiwa yang disebut sebagai Gerakan 30 September 1965 meletus. Lalu era Orde Baru 32 tahun kemudian pun tumbang oleh ‘serbuan’ rakyat dan mahasiswa yang menandai dimulainya masa kebebasan berpendapat dan beropini di negeri katulistiwa ini. Pelengseran kekuasaan Gus Dur dari kursi kepresidenan juga diwarnai sejumlah gerakan massa. Seorang kawan pernah mengatakan bahwa bisakah perubahan besar di Indonesia tidak dengan aksi massa yang (hampir pasti) memakan korban jiwa dan harta benda? Saya menjawab, “.. entahlah untuk saat ini, tapi saya sendiri merasa kurang yakin ..”.

Mahasiswa secara ‘tradisi’ menghuni kelasnya sendiri. Itulah kenapa penyebutan mahasiswa dan rakyat itu selalu menyatu, tidak mahasiswa saja atau rakyat saja. Dari zaman pra kemerdekaan, mahasiswa (yang dulu bernama pemuda pelajar) telah mendapat space khusus dari rakyat. Sebagai bagian dari kaum intelektual terpelajar, maka peran mahasiswa dalam setiap rezim maupun pergantian rezim selalu menonjol. Jangankan di Indonesia, di seluruh dunia pun selalu seperti itu. Revolusi Prancis dahulu antara tahun 1789 hingga 1799 pun adalah merupakan gerakan kaum terpelajar dimana didalamnya adalah para mahasiswa juga. Rakyat buruh, petani, dan semua kelas yang terzalimi saat itu sebagai kekuatan utama lainnya dengan sukses menyempurnakan gerakan peralihan itu.

Kini rakyat di Indonesia tinggal menghitung letih dan getir serta kegelisahan dengan kondisi dirinya serta negeri ini. Rakyat (termasuk mahasiswa) memang senantiasa hanya menjadi kekuatan pendobrak, tapi setelah itu hasil dari perubahan yang terjadi kemudian menjadi milik kaum politikus dan borjuis terpelajar. Mahasiswa sebagai apa yang disebut dengan Agent of Change pun lebih kurang mengalami hal yang sama. Ia hanya berposisi sebagai 'barikade' penggulingan, setelah itu? Mereka akan ‘berkeliaran’ menjadi berbagai hal. Yah, begitulah kawan .. ini realita zaman negara berkembang.

Namun terlepas dari itu semua, kekuatan rakyat (dan mahasiswa) jangan pernah dipandang remeh. Saat ini kaum penjilat menempel pada penguasa dengan menjadi bumper rezim sehingga harus ‘berduel’ dengan rakyat itu sendiri. Lalu? Tentu saja rakyat harus punya sikap, sebab apapun kebijakan dan kondisi yang ada maka rakyat akan senantiasa merasakan akibat terburuknya. Dari ekonomi, hukum, maupun HAM dan banyak hal. Jadi jangan pernah memandang sebelah mata dengan 'kegelisahan' massa, sebab ia bisa berubah menjadi bola api liar yang bisa ‘menghanguskan’ semuanya. Dan mahasiswa? Ia akan dan harus terus bersama rakyat, sebab dari sanalah ia berasal.



Bandung, 3 September 2011








-------ooOoo-------

Rabu, 20 Oktober 2010

PUISI : Negeri Para Bedebah

" Negeri Wayang "
ilustrasi oleh: nemu di google.com



Puisi Negeri Para Bedebah
Karya: Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan,




Ket: petani bodoh mempostingnya untuk memperingati satu tahun Kabinet Indonesia Bersatu Jilid 2 pemerintahan SBY - Boediono .. tidak untuk dikomersilkan, hanya berbagi untuk semua .. semoga memberi pencerahan dan inspirasi ..





-----ooOoo-----

Sabtu, 21 Agustus 2010

PUISI : Tiga Catatan Dari (alm) Rendra

" Anak Lapar "
ilustrasi oleh: dari www.google.com



PUISI DOA ORANG LAPAR

Kelaparan adalah burung gagak
Yang licik dan hitam
Jutaan burung-burung gagak
Bagai awan yang hitam

Allah !
Burung gagak menakutkan
Dan kelaparan adalah burung gagak
Selalu menakutkan
Kelaparan adalah pemberontakan
Adalah penggerak gaib
Dari pisau-pisau pembunuhan
Yang diayunkan oleh tangan-tangan orang miskin

Kelaparan adalah batu-batu karang
Di bawah wajah laut yang tidur
Adalah mata air penipuan
Adalah pengkhianatan kehormatan

Seorang pemuda yang gagah akan menangis tersedu
Melihat bagaimana tangannya sendiri
Meletakkan kehormatannya di tanah
Karena kelaparan
Kelaparan adalah iblis
Kelaparan adalah iblis yang menawarkan kediktatoran

Allah!
Kelaparan adalah tangan-tangan hitam
Yang memasukkan segenggam tawas
Ke dalam perut para miskin

Allah!
Kami berlutut
Mata kami adalah mata-Mu
Ini juga mulut-Mu
Ini juga hati-Mu
Dan ini juga perut-Mu
Perut-Mu lapar, ya Allah
Perut-Mu menggenggam tawas
Dan pecahan-pecahan gelas kaca

Allah!
Betapa indahnya sepiring nasi panas
Semangkuk sop dan segelas kopi hitam

Allah!
Kelaparan adalah burung gagak
Jutaan burung gagak
Bagai awan yang hitam
Menghalang pandangku
Ke sorga-Mu ..

DARI KUMPULAN PUISI “SAJAK – SAJAK SEPATU TUA”
(PUSTAKA JAYA – 1995)



SAJAK RAJAWALI

Sebuah sangkar besi
Tidak bisa mengubah rajawali
Menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit
Dan di dalam sangkar besi
Rajawali merasa pasti
Bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa rajawali
Adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
Tujuh langit, tujuh rajawali
Tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
Memandang dunia
Rajawali di sangkar besi
Duduk bertapa
Mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
Yang terjadi dari keringat matahari
Tanpa kemantapan hati rajawali
Mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi
Membela langit dengan setia
Dan ia akan mematuk kedua matamu
Wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka ..


SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA

Matahari terbit pagi ini
Mencium bau kencing orok di kaki langit
Melihat kali coklat menjalar ke lautan
Dan mendengar dengung di dalam hutan

Lalu kini ia dua penggalah tingginya
Dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
Memeriksa keadaan

Kita bertanya :
Kenapa maksud baik tidak selalu berguna
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
Orang berkata : "kami ada maksud baik"
Dan kita bertanya : "maksud baik untuk siapa?"

Ya!
Ada yang jaya, ada yang terhina
Ada yang bersenjata, ada yang terluka
Ada yang duduk, ada yang diduduki
Ada yang berlimpah, ada yang terkuras
Dan kita disini bertanya :
"maksud baik saudara untuk siapa?
saudara berdiri di pihak yang mana?"

Kenapa maksud baik dilakukan
Tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
Tanah-tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota
Perkebunan yang luas
Hanya menguntungkan segolongan kecil saja
Alat - alat kemajuan yang diimpor
Tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

Tentu, kita bertanya :
"lantas maksud baik saudara untuk siapa?"
Sekarang matahari semakin tinggi
Lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
Dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
Kita ini dididik untuk memihak yang mana?
Ilmu-ilmu diajarkan disini
Akan menjadi alat pembebasan
Ataukah alat penindasan?

Sebentar lagi matahari akan tenggelam
Malam akan tiba
Cicak-cicak berbunyi di tembok
Dan rembulan berlayar
Tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
Akan hidup di dalam mimpi
Akan tumbuh di kebon belakang

Dan esok hari
Matahari akan terbit kembali
Sementara hari baru menjelma
Pertanyaan-pertanyaan kita menjadi hutan
Atau masuk ke sungai
Menjadi ombak di samodra

Di bawah matahari ini kita bertanya :
Ada yang menangis, ada yang mendera
Ada yang habis, ada yang mengikis
Aan maksud baik kita
Berdiri di pihak yang mana!

(Jakarta, 1 Desember 1977)



Keterangan: Puisi-puisi WS. Rendra diposting kembali oleh ilalangmerah bukan untuk tujuan komersil, hanya untuk berbagi dan mengambil manfaatnya .. salam ..






-------ooOoo-------