"Jika bukan karena nyala api yang membakarnya, maka aroma harum kayu gaharu takkan ada yang tahu .." : petanibodoh

Minggu, 21 Juni 2009

PUISI : Rencana Besar Mendulang Asap

RENCANA BESAR

Tiap kali kita bertemu lewat kata-kata dilayar kaca
Selalu kau bercerita akan rencana besar yang saga
Tiap kali kita bersua lewat berbagai kertas sebagai pesan
Inilah dia rencana besar tak pernah lupa kau ingatkan

Bukan firman tidaklah sabda namun begitu mudah dihapalkan

Saat tiba kata-kata siap di asah di bibir matahari
(katamu) Rencana besar tertinggal di laci
Tersimpan rapat dengan puluhan sandi pada anak kunci
(lalu untuk membukanya aku sibuk sendiri mencari belati),


Bandung, 21 Juni 2009




TEORI MENDULANG ASAP

Ayo marilah berkumpul
Hari ini sesuai rencana kita akan mendulang asap
Untuk mematahkan teori jika tak ada yang tak mungkin
Ayo cepat jangan banyak argumen diadu
Kulkas dipanaskan didalamnya sungguhlah membeku
Lima jam saja asap pasti akan menjadi batu
(ternyata untuk mematahkan teoripun harus dengan teori)


Jatinangor, 8 Juni 2009




-----oooOooo-----

Jumat, 05 Juni 2009

CATATAN : Refleksi Tentang Mahasiswa Menjelang Pilpres 2009

" Aksi Mahasiswa "
ilustrasi oleh: dari nyari di google saja



MAHASISWA INDONESIA DALAM CUPLIKAN SEBUAH SEJARAH

(Refleksi Kecil Menjelang Pilpres 2009)



Begitulah, masanya selalu momentum dan terkadang latah. Saat itu mereka akan angkat tubuh dari kursi-kursi kelas yang kaku dan keluar dari ruang-ruang kampus yang pengap untuk menasbihkan diri menjadi simbol perlawanan..”

TAHUN 1908 – 1928 – 1945, deret masa yang tercatat emas dalam tinta sejarah negeri. Budi Utomo memulai pergerakan dengan berbasis pendidikan untuk pemuda. Tahun ini (walaupun bukanlah embrio pertama kalinya) telah cukup untuk meletakkan sebuah dasar bagi perjuangan melawan penjajahan dengan metode yang lebih berbobot dan terdidik. Berlanjut ke tahun 1928, ketika Sumpah Pemuda dideklarasikan oleh para pemuda Indonesia yang intinya menyatakan persatuan seluruh rakyat yang antikolonial. Lalu 1945, pemuda-pemuda mendorong para politisi muda seperti Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa Rengasdengklok hampir menyebut semua tokoh dibalik ‘penculikan bersejarah’ ini adalah pemuda.

Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang akhirnya melahirkan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian nanti telah berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Akbar Tanjung, Cosmas Batubara Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, dll. Angkatan '66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Tahun 1966, dianggap momen sejarah yang gemilang bagi mahasiswa Indonesia karena berhasil menggulingkan kekuasaan Soekarno.

Waktu terus berjalan dan masa Orde Baru bertakhta di awal 70-an. Namun, seperti lazimnya sebuah kekuasaan politik militer, tidak berapa lama berbagai borok pembangunan dan demoralisasi perilaku kekuasaan rezim Orde Baru terus mencuat. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah Orde Baru telah melakukan berbagai cara dalam bentuk rekayasa politik, untuk mempertahankan dan memapankan status quo dengan mengkooptasi kekuatan-kekuatan politik masyarakat antara lain melalui bentuk perundang-undangan. Misalnya, melalui undang-undang yang mengatur tentang pemilu, partai politik, dan MPR/DPR/DPRD. Disamping itu, pengekangan dan pembungkaman terhadap kebebasan berpendapat dan bersuara pun dilakukan lewat berbagai peraturan dan intimidasi-intimidasi.

Muncul berbagai pernyataan sikap ketidakpercayaan dari kalangan masyarakat maupun mahasiswa terhadap sembilan partai politik dan Golongan Karya sebagai pembawa aspirasi rakyat. Sebagai bentuk protes akibat kekecewaan, mereka mendorang munculnya Deklarasi Golongan Putih (Golput) pada tanggal 28 Mei 1971 yang dimotori oleh Arif Budiman, Adnan Buyung Nasution, Asmara Nababan. Akhirnya pada 1974 dan 1978, mahasiswa mulai “merongrong” kekuasaan Orde Baru. Jika rentang waktu awal 60-an sampai awal rezim Orde Baru mahasiswa berjibaku dengan agenda politik praktis dan ideologi yang sangat vulgar yang berafiliasi pada partai, maka memasuki 1980-an, mahasiswa mulai aktif terlibat di basis rakyat sebagai garis massa yang independen. Mereka lebih menyuarakan pesan-pesan sosial dan perlawanan akan rezim penguasa.

*******

Mahasiswa takut sama Dosen
Dosen takut sama Rektor
Rektor takut sama Menteri
Menteri takut sama Presiden
Presiden takut sama Mahasiswa

-Taufik Ismail-


Tahun 80-an dan 90-an adalah refleksi sebuah ‘perjuangan bawah tanah’ bagi para mahasiswa. Gerbong kelompok yang disusun dalam sebuah tekanan politik rezim penguasa yang begitu kuat dan sistematis. Namun seperti semangat waktu-waktu yang berlalu, pembredelan yang kuat malah membuat rantai perlawanan semakin kokoh. Hingga akhirnya mahasiswa menemukan tanggalnya pada Mei 1998. Aksi besar (parlemen jalanan) pun pecah. Karena kenaikan harga-harga, inflasi yang tinggi, dan kematian beberapa mahasiswa Trisakti, jumlah mahasiswa yang menggugat membesar dan mulai menduduki gedung MPR/DPR. Penguasa tak mampu membendung dan Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai presiden pada 21 Mei 1998.

Akan tetapi, ada yang menarik dan terus menjadi perdebatan di kalangan aktivis mahasiswa. Gerakan yang lahir dari dalam kampus dan luar kampus itu terus-menerus menjadi tim pemukul. Tetapi, hasil pukulan mereka kembali teredam ketika muncul pihak lain yang mengambil alih kekuasaan. Mahasiswa berperan sebagai gerakan pemukul sejak 1908 sampai 1998. Aksi mahasiswa yang banyak menelan korban luka-luka dan meninggal itu, nantinya selalu terpatahkan oleh kekuatan kelompok lain.

Menjelang pemilu tahun 2004, aktivis mahasiswa mulai dihadapkan pada wacana untuk meneruskan agenda politiknya dengan memasuki partai politik. Namun, ada beberapa lainnya yang tetap bertahan di garis massa; buruh, petani, dan nelayan. Sedangkan mahasiswa-mahasiswa yang ‘terjebak’ di kampus terus bergerak ke sana kemari merespons persoalan-persoalan politik nasional dengan latah. Gerakannya timbul tenggelam bergantung pada isu-isu di media massa. Meski bergerak, mahasiswa tidak pernah mengambil peran dari kekuasaan. Revolusi Paris 1968 telah memberikan bukti itu ketika ribuan mahasiswa pada Mei 1968 berhasil menguasai Paris, namun membiarkan partai politik mengambil keuntungan dari gerakan mereka.

*******

…………………
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
…………………

-Chairil Anwar-


Gerakan mahasiswa saat ini masih dianggap ‘tertidur’. Mahasiswa terjebak pada simbol-simbol yang kaku. Aksi mahasiswa senantiasa dikaitkan dengan parlemen jalanan saja dan akan diansumsikan membuat macet. Mahasiswa di kampus pun telah terpecah belah dalam beberapa kepentingan dan golongan. Mahasiswa seharusnya membaca kembali sejarahnya sendiri. Merangkumnya tidaklah dengan kacamata kuda. Bukan latah membuat ulangan sejarah, tetapi untuk membuat sejarah baru sebab masa depan tetaplah akan berpijak dari hari ini. Menghidupkan jaringan dan mengasah kepekaan tidak mesti dengan turun kejalan saja. Tapi menghidupkan ‘kelas’ dengan dikusi yang lebih ber-visi dan variatif untuk berbagai solusi tentang masalah-masalah yang dihadapi.



- Ditambahkan dari berbagai sumber





--------oooOooo--------